Lebaran yang membuat pikiran
Lebaran yang membuat pikiran.
Momen lebaran yang harusnya semua orang bersuka cita, bergembira, bahagia karena banyak hal. Justru yang saya rasakan adalah sebaliknya.
Anehnya saya belum sepenuhnya sadar, tentang hal apa yang menjadi penyebab saya bisa merasa "biasa aja" menghadapi lebaran.
Awalnya saya takut. Takut kalau saya kena azab karena diambil nikmat lebaran oleh Alloh sehingga saya tidak bisa ikut bergembira dihari yang fitri ini.
Tapi lama-lama saya juga mulai merasa perlu untuk mencari tahu, kenapa sih saya bersikap sesantai ini dalam merayakan hari raya agama saya sendiri.
Saya mulai sering berdiam diri. Dari yang tadinya saya suka grusa-grusu kalo mikir. Sekarang saya mencoba untuk slow aja. Kalem. Padahal aslinya saya nggak cocok sama sekali dengan kepribadian baru ini.
Tidak cukup sehari, saya memerlukan waktu berbulan-bulan untuk bisa "mikir". Bukan karena saya orang yang pemikir dan rajin nulis jurnal setiap waktunya ya. Tapi memang saya suka lupa aja kalo punya projek pribadi.
Awalnya semangat sekali untuk meluangkan waktu. Tapi setiap ada waktu kosong buat mikir malah saya jadi susah berkonsentrasi. Ujung-ujungnya saya cuman scrol Au di twitter atau malah scroll tiktok nonton vidio kocak.
Saya memang tidak berbakat menjadi seorang yang serius tapi santai.
Tapi lambat laun, waktu ke waktu. Saya mulai menemukan jam-jam yang tepat untuk bermuhasabah diri.
Ya, waktu sebelum tidur. Di detik-detik sebelum saya bablas tertidur pulas. Disanalah saya sadar apa saja yang menjadikan saya bingung setiap momen lebaran.
Jawabannya adalah.
Saya sudah terbiasa hidup terlalu apa adanya.
Tidak ada effort. Tidak ada ambisi. Tidak ada cita-cita. Tidak ada semangat yang berkobar-kobar. Tidak ada motivasi.
Payah sekali bukan?
Menyadari hal itu, saya tercekat. Tiba-tiba perasaan sedih menjalar di relung hati saya yang paling dalam, sedalam kolam ikan koi.
Apa-apaan saya ini. Betapa tidak ada bagus bagusnya saya hidup di dunia.
Tapi kalo saya pikir-pikir lagi, nggak ada salahnya juga kok saya punya pemikiran yang seperti itu.
Hanya saja, saya perlu sedikit merubah pola pikir saya supaya hal-hal yang saya senangi itu tetap bisa di terima oleh keluarga dan masyarakat sekitar.
Ya, saya perlu sedikit akting kalau saya ini juga sama seperti mereka. Bergembira dengan cara-cara khas mereka.
Yakni, berfoto ala lebaran lalu di posting di sosmed dengan caption "Just Want Keep The Moment ✌"
Laliuuu ada lagi yang harus saya lakukan, memaksakan diri berbaur dengan keluarga besar. Hal yang sangat susah saya lakoni karena itu sangat berlawanan dengan sifat ansos saya.
Saya yakin seyakin yakinnya apa yang saya tulis ini pasti akan mengundang "pandangan yang aneh" orang terhadap saya. Tapi jujurli besti, saya memang sepayah itu. Saya terlalu tidak mau effort untuk hal-hal seru seperti ini.
Setelah saya merenung berbulan-bulan, tentulah saya mengakhiri kegiatan sok mikir ini dengan menarik garis kesimpulan.
Bahwa,
Saya sebetulnya senang dengan momen-momen lebaran ini. Tapi saya menikmatinya dengan cara saya sendiri. Saya merasa bagong karena saya secara tidak sengaja, membandingkan kebiasaan saya ini dengan kebiasaan yang dibuat orang lain.
Tentu hal itu tidak akan pernah bisa nyambung dan menimbulkan perkara.
Rumusnya aja "Pendak wong ki bedo-bedo". Jadi ya sudah saya akan berdamai saja dengan kebingungan saya soal lebaran ini.
Yang terpenting bagi saya adalah, bagaimana saya bisa menjalani dengan ikhlas dan bersyukur karena Alloh masih hadirkan saya di setiap lebaranNya. Tentunya ya dengan cara saya sendiri saya bisa menikmati.
Komentar
Posting Komentar