Ayo Gelut

 Ayo Gelut.


Cerita ini bermula ketika saya dan suami saya sudah bosan melihat tayangan vidio tek tok atau fasbuk sebelum tidur. Ya, rutinitas kami sebelum tidur kadang suka nonton vidio bareng sampai tertidur.

Biasanya kami melihat vidio lucu atau vidio masak-masak mbak-mbak cina anak pak lurah. 

Kadang kami juga melihat vidio yang menguji keimanan kami untuk tidak misuh-misuh. Bagaimana tidak, vidio yang kami lihat ini memang cukup ekstrim dikalangan warga lokal indo. 

Kuliner india.

Bisa dibayangkan? Bagaimana perjuangan kami untuk menahan diri dari kata-kata "huek" ?

Astagfirulloh kan jadi ketulis di sini.

Jangan dicontoh ya. Ga baik mencela makanan 🙃.

Nah karena kami benar-benar sudah bosan. Mata juga sudah mulai lelah melihat layar datar ponsel android yang menyala terang, kami memutuskan untuk saling bertukar cerita masa kecil kami.

Hitung-hitung kami belajar mengenali satu sama lain dengan menjalin pertemanan masa kanak-kanak lewat kisah seru yang dulu pernah kami lalui.

Giliran suami saya bercerita.

Sepertinya baik dulu maupun sekarang. Anak laki-laki usia kanak-kanak sampai sd masih suka dengan pertunjukan adu kekuatan fisik.

Mereka bahkan sampai berimajinasi bisa menjadi bagian dari permainan itu.

Tak jarang ada juga yang betulan menyalurkan hasrat bertarung mereka dengan cara-cara yang positif dan tentunya dengan izin orangtua, seperti ikut les karate, tinju, pencak silat dan olahraga sejenisnya.

Namun ada juga yang karena hanya ikut-ikutan dan musiman saja, sejumput anak-anak tadi menunjukkan kekuatannya dengan cara yang kurang positif. Seperti adu jotos dengan temannya bahkan ada yang dengan usil mengganggu orang lain tanpa sebab.

Nah, tentu saja.

Suami saya ini masuk ke kategori kelompok anak-anak yang jenis kedua.

Dalam kisahnya. Dulu saking sukanya dia dan teman-temannya menonton acara smekdon di tv, setiap hari yang dibahas di sekolah ya itu-itu saja. Siapa yang kalah siapa yang menang. Pembahasan selalu berputar-putar di sana. Herannya mereka semua tidak merasa bosan.

Sampai suatu saat, ketika suami saya sedang menyalin catatan dipapan tulis. Datang temannya yang sebenarnya adalah kakak kelasnya tapi karena dia sangat menyayangi sekolahnya, dia memutuskan untuk mengulang di tingkat kelas yang sama sekali lagi. Ya tau kan maksudnya?

Kita sebut saja namanya Hendra. Ini bukan nama yang sebenarnya, karena saya tidak tahu juga nama aslinya siapa. Suami saya tidak menyebutkan.

Kurang lebih percakapan itu seperti ini.

Hendra mendatangi bangku suami saya pagi itu di jam istirahat sekolah. Suami yang menyadari temannya berdiri disampingnya mencoba menyapa.

"ngopo?" tanya suami saya sembari menulis.

Tanpa ragu, Hendra mengatakan maksudnya.

"Dul, ayo engko gelut," katanya dengan wajah dan nada yang super datar.

Tentu saja saya kaget saat suami menceritakan part itu. Saya sampai menyela untuk bertanya apakah dia membuat masalah dengan temannya itu. Namun hal mencengangkan dan super menggelikan terkuak.

Suami melanjutkan ceritanya sebelum menjawab tanya saya.

Dengan santai suami menjawab tanpa penolakan.

"Oh ya ayo." Jawaban yang juga tak kalah datar. Seolah hal yang mereka bicarakan adalah hal sepele.

"Mengko ya bali sekolah neng mburi kelas." Saya mulai penasaran.

Suami saya bercerita dengan menahan geli. Mungkin dia sudah lebih dari menyadari betapa konyolnya dia dulu waktu kecil.

"Tapi rasah ngejak liane ya, awak dewe wong loro tok," ujar Hendra lagi.

Dengan polos suami saya mengiyakan lagi. Saya sudah tidak tahan untuk tidak tertawa.

Namun sebelum Hendra pergi suami saya sempat bertanya. Ini hal yang wajar dia tanyakan tapi ini adalah hal paling aneh yang pernah saya dengar.

"Lha gelut'e masalahe opo?" tanya suami. Pertanyaan yang sudah sejak tadi ingin saya tanyakan juga bukan?

"Yo raono, mung gelut wae," jawab Hendra lagi.

Hah?? Saya tidak mengira Hendra dan suami sama polosnya.

Saat itu entah kode dari mana saya dan suami terbahak-bahak bersamaan.

Lucu sekali ya anak-anak. Dunianya memang belum tersentuh ujian dunia. Sampai-sampai masalah pun dicari.

Lanjut.

Waktu yang dutunggu tiba. Suami saya segera menuju belakang kelas. Sebetulnya lebih ke belakang sekolah karena tembok kelas ini sudah berbatasan langsung dengan kebun orang.

Cukup lama menunggu tapi anehnya suami saya masih mau bersabar. 

Saat Hendra betulan datang tentu saja kita sangat menantikan bagaimana nanti kisah tarung dua bocil itu bukan?

Namun tidak sesuai ekspektasi saya. Sangat-sangat konyol.

Hendra menatap suami saya yang berjarak 2 meter di depannya. Dengan wajah penuh dengan peluhnya itu alasan lugu terucap.

"Dul, nek le gelut sesok wae pie? aku dikon mulih mamakku," ujar Hendra.

Heii, Hendra!

Dengan nada lega tidak jadi diajak gelut. Suami saya pun juga melontarkan jawaban yang saat mendengarnya saja saya ingin menampol.

"Oh yorapopo, aku yo meh ngewangi ibukku, asah-asah neng omah," jawab suami saya yang gemoy itu.

Akhirnya mereka berdua pulang beriringan dengan damai.

Ternyata sedari tadi suami saya ini sudah kepikiran tugas mencuci piring di rumah. Sudah menjadi rutinitasnya setiap pulang sekolah.

Suami saya sebetulnya ingin menolak tapi katanya tidak enak jika menolak ajakan teman yang lebih tua. Katanya begitu.

Tapi yang lucu ya si Hendra itu. Dia yang mengajak, dia pula yang membatalkan.

Ironis sekali bukan.

Kalau ajakannya berupa pergi ke suatu tempat untuk membeli sesuatu atau hal lainnya tentu saja merasa segan untuk menolak adalah hal yang lumrah.

Tapi ini masalahnya segan menolak ajakan adu jotos kakak kelas. Bahkan tidak ada alasannya kenapa mereka harus sparing.

Asataga. Saya sampai menangis saking hebohnya tertawa.

Yah namanya juga anak-anak.

Ajakan "ayo gelut" terdengar sangat cool man 🤘. 

Tapi batal karena yang satu disuruh pulang cepat, yang satu harus cuci piring.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lebaran yang membuat pikiran